CARA MEMBUAT VIDEO KLIP

VIDEO KLIP adalah kumpulan potongan-potongan visual yang dirangkai dengan atau tanpa efek-efek tertentu dan disesuaikan berdasarkan ketukan-ketukan pada irama lagu, nada, lirik, instrumennya dan penampilan band, kelompok musik untuk mengenalkan dan memasarkan produk (lagu) agar masayarakan dapat mengenal yang selanjutnya membeli kaset, CD, DVD.

Memberikan imbas bagi seluruh stasiun TV untuk mendapatkan pemasukan dari iklan yang membeli tayangannya baik dalam bentuk program musik atau sebagai iklan itu sendiri, bahkan juga memberikan kesempatan bagi seluruh insan muda yang kreatif baik sebagai sutradara atau crew kreatif di dalamnya.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MEMBUAT VIDEO KLIP

1. SIMBOL

Tidak perlu adanya keselarasan antara gambar dan lirik, bahkan seringkali tidak
ada hubungan antar keduanya.

2. VERBAL

Gaya desain penggambaran akan disesuaikan dengan isi lirik (gambar dan lirik saling
menyatu).

UNSUR VIDEO KLIP

1. Bahasa Ritme (irama)

Pelajari birama dulu apakah slow beat, fast beat, middle beat dan coba rasakan
dengan ketukan-ketukan kaki untuk memperoleh tempo yang pas.

2. Bahasa Musikalisasi (instrument musik)

Pembuat Video Klip atau biasa disebut VIDEO CLIPPER haruslah mempunyai
sebuah wawasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan musik baik itu jenis
musik, alat musik, bahkan juga profil band.

3. Bahasa Nada

Perhatikan aransemen nada, diskusikan dengan piñata musiknya tentang aransemen
yang dibuat. Selanjutnya rasakan dengan hati nada-nada tersebut.

4. Bahasa Lirik
Seorang VIDEO CLIPPER dituntut mempunyai sebuah imajinasi visual terhadap
lirik dan lagu walaupun tidaklah harus secara verbal.

Jika ada lirik yang mengungkapkan kata ‘CINTA’ maka sebagai simbolisasi tidak
harus dengan bunga, warna pink, atau hati. Bisa saja berupa kertas (surat), sepatu
butut (cinta tanpa mengenal status social), air (cinta yang mengalir). Atau bahkan
bias dengan tarian kontemporer.

5. Bahasa Performance (penampilan)

Selami karakter pemusik, penyanyi, pemain band baik dari latar belakang
bermusiknya, hingga ke profil fisiknya (hidung, mata, style, fashion dan gerak tubuh).

TEKNIS SEDERHANA PEMBUATAN VIDEO KLIP

1. PENENTUAN LOKASI SYUTING

INDOOR

Indoor on place (café, rumah, gedung pekantoran)
Kebutuhan akan property sedikit lebih simple karena kebutuhan property seperti seperti meja, kursi, lemari, lampu hias, buku, dan sebagainya sudah tersedia. Penambahan property cenderung untuk melengkapi kebutuhan story board.

Indoor Studio

Harus mampu menata, membuat bahkan membangun set design sesuai denga kebutuhan story board. Hal ini menjadikan kemampuan pengembangan estetika seni mendapat peranan besar, karena tudgas seorang piñata artistic haruslah menciptakan bukan memanfaatkan set yang sudah ada.

OUTDOOR

Cenderung memanfaatkan segala property dan nuansa alam yang sudah ada dan cenderung yang lebih banyak diadopsi adalah natural keunikan alam atau lingkungannya (di pantai, pasar, gunung, dsb)

2. STORY BOARD

Dalam memproduksi video klip hal pertama yang harus dituangkan dari konsep adalah STORY BOARD, karena dari story board seorang sutradara video klip dapat mengungkapkan imajinasinya melalui gambar-gambar konsep visual yang bercerita.

Dari story board lah seorang klipper akan lebih mudah berkonsentrasi dalam hal-hal yang bersifat teknis visual, penataan cahaya, penataan artistic, camera angle, ataupun performance sang artis.

3. PERALATAN SYUTING/ PRODUKSI

Peralatan yang dibutuhkan sangat ditentuntukan oleh klip seperti apa yang akan dibikin, hanya saja pasti ada alat utama yang harus ada terutama :

CAMERA dengan kelengkapan seperti tripod, dolly, dolly track, crane.
LIGHTING dengan kelengkapan stang, filter, dsb

4. MEMPERKUAT CREW

Pastikan anda bersama crew dan tim yang kompak dengan dipimpin seorang sutradara dalam pelaksanaan produksinya. Dalam penentuan crew tidak ada patokan berapa jumlahnya. Semuanya sangat tergantung dari produksi itu sendiri seberapa banyak ia membutuhkan tenaga.

5. PENGAMBILAN GAMBARSetiap gambar yang diambil tentunya berdasarkan story board yang telah dibuat. Shot-shot untuk video klip sebenarnya tidak ada aturan khusus secara teknis tetapi dalam instruksi dan istilah-istilah yang dipakai tetap menggunakan aturan secara umum. Misal : Close Up, Medium shot, Cut, Cue, Running, dsb. Hal ini tentunya adalah untuk memudahkan dalam hal pelaksanaan teknis saat pra produksi, produksi dan editing.

6. EDITING

Pada era yang serba digital ini, editing mempunyai peranan yang cukup penting dalam proses akhir produksi sebuah video klip. Bahkan editing juga dapat mengatasi segala keterbatasan alat pada saat produksi untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan story board.
Namun dengan hebatnya teknologi editing yang ada, sebagai seorang video klipper tetap dituntut harus mampu memperoleh produksi semaksimal mungkin tanpa tergantung dari editing.

Tahapan Pembuatan Film

Pembuatan film (sering disebut dalam konteks akademik seperti produksi film) adalah proses pembuatan film, dari cerita awal, ide, naskah, syuting, mengedit, mengarahkan dan penyaringan produk jadi dalam sebuah program televisi/film. Pembuatan film berlangsung di seluruh dunia dalam berbagai besar konteks ekonomi, sosial, dan politik serta menggunakan berbagai teknologi dan teknik sinematik. Biasanya, ini melibatkan sejumlah besar para kru, dan membutuhkan lebih dari beberapa bulan sampai beberapa tahun untuk menyelesaikannya, meskipun mungkin membutuhkan waktu lebih lama jika ada masalah dalam produksi.

Tahapan Produksi

Tahapan Produksi terbagi dalam 5 tahap:
  • Development :   Naskah ditulis dan disusun menjadi sebuah cetak biru yang bisa diterapkan untuk sebuah film.
  • Pra Produksi : Persiapan untuk syuting, penyeleksian artis dan kru film yang disewa, lokasi yang dipilih, dan pembangunan set.
  • Produksi : Elemen terpenting, penyelesaian dalam proses perekaman film
  • Pasca Produksi : Pengeditan Film, produksi suara (dialog) bersamaan dengan  pengeditan (tapi terpisah), soundtrack/backsound/sound efek dibuat, dipilih dan direkam, dan ‘visual’ efek digital ditambahkan kemudian disatukan dengan gambar dan film sepenuhnya selesai (‘terkunci’).
  • Sales dan Ditribusi : Film dipilih kepada para calon pembeli (distributor), diambil oleh distributor, masuk ke bioskop dan atau rumah media lainnya.

Tahap Development

Pada tahap ini, produser menemukan sebuah cerita, yang mungkin berasal dari sebuah buku, permainan, film lain, kisah nyata, ide asli, dll. Setelah mengidentifikasi tema atau pesan yang mendasarinya, produser bekerja sama dengan scriptwriter untuk menyiapkan sinopsis. Selanjutnya mereka membuat garis besar yang memecah cerita ke dalam satu paragraf adegan yang berkonsentrasi pada struktur dramatis. Kemudian, mereka menyiapkan treatment, 25 sampai 30 halaman deskripsi cerita, suasana, dan karakter. Hal ini biasanya hanya memiliki sedikit dialog dan arah ekpresi, tetapi sering mengandung gambar yang membantu memvisualisasikan poin kunci. Cara lain adalah untuk menghasilkan scriptment sekali sinopsis diproduksi.

Selanjutnya, scriptwriter menulis skenario selama beberapa bulan. Skenario dapat ditulis ulang beberapa kali untuk meningkatkan dramatisasi, kejelasan, struktur, karakter, dialog, dan gaya keseluruhan. Namun, produser sering melewatkan langkah-langkah sebelumnya dan mengembangkan skenario yang diajukan investor, studio, dan pihak lain yang berkepentingan menilai melalui proses yang disebut script coverage. Seorang distributor film dihubungi pada tahap awal untuk menilai pasar dan kesuksesan finansial potensi film tersebut.

Para produser dan scriptwriter menyiapkan treatment dan menyampaikannya kepada pemodal yang berpotensial. Jika ini berhasil, film ini akan menerima ‘lampu hijau’, yang berarti seseorang menawarkan dukungan keuangan; biasanya sebuah studio film besar, dewan film, atau investor independen. Pihak yang terlibat menegosiasikan kontrak kesepakatan. Setelah semua pihak telah bertemu dan kesepakatan telah ditetapkan, film ini mungkin melanjutkan ke masa pra-produksi. Pada tahap ini, film harus memiliki strategi pemasaran yang jelas dan target audience.

Tahap Pra Produksi

Dalam pra-produksi, setiap langkah membuat film ini harus hati-hati dalam merancang dan merencanakannya. Sebuah PH ditetapkan. storyboard dibuat dan divisualisasikan dengan bantuan ilustrator dan seniman konsep. Anggaran produksi disusun untuk merencanakan pengeluaran untuk film. Untuk produksi utama, asuransi diperoleh untuk melindungi terhadap kecelakaan.

Produser mempekerjakan kru. Sifat dari film dan anggaran menentukan ukuran dan jenis yang digunakan selama pembuatan film. Banyak film Hollywood mempekerjakan ratusan pemain dan kru. Kalau anggaran rendah, film indie dapat dilakukan oleh kru terdiri dari 8 atau 9 (atau kurang). Ini adalah posisi kru:
  • Sutradara bertanggung jawab untuk storytelling, keputusan yang kreatif dan akting para artis.
  • Asisten Sutradara, mengelola jadwal syuting dan logistik produksi, di antara tugas-tugas lainnya. Ada beberapa jenis dari Astrada, masing-masing mempunyai tanggung jawab yang berbeda.
  • Sutradara casting, menemukan aktor dan aktris untuk mengisi bagian dalam script.
  • Manajer lokasi, menemukan dan mengelola lokasi film.
  • Manajer produksi, mengelola anggaran produksi dan jadwal produksi. Mereka juga melaporkan atas nama PH untuk para eksekutif studio atau pemodal dari film.
  • Director of Photography (DOP) adalah sinematografer yang mengawasi/menilai/mengambil   tata letak gambar seluruh film.
  • Director of Audiography (DOA) adalah audiographer yang mengawasi audiography (check sound dan kualitas suara) dari seluruh film.
  • Sound Mixer adalah kepala departemen suara selama tahap produksi pembuatan film. Mereka merekam dan mencampur audio di set – efek dialog. Mereka bekerja dengan operator booming, Sutradara, DOA, DOP, dan Astrada.
  • Sound Designer, menciptakan konsepsi aural film. Pada beberapa produksi Sound Desaigner  memainkan peran seorang Director of Audiography.
  • Komposer Musik, menciptakan musik baru untuk film. (Biasanya tidak sampai pasca-produksi)
  • Production Designer, menciptakan konsepsi visual film, bekerja dengan Art Director.
  • Art Director,  mengelola departemen seni, yang membuat set produksi.
  • Costume Designer, menciptakan/memilih pakaian untuk karakter dalam film, bekerja sama dengan aktor serta departemen lainnya.
  • Make-up Artist,  bekerja sama dengan Costume Designer  untuk menciptakan tampilan tertentu untuk karakter.
  • Storyboard Artist, menciptakan gambar visual untuk membantu Sutradara dan Production Designer mengomunikasikan gagasan mereka kepada seluruh tim produksi.
  • Choreographer,  menciptakan dan mengkoordinasikan gerakan dan tari – biasanya untuk musikal. Beberapa film juga dilatih oleh Fight Choreographer.

Tahap Produksi

Dalam produksi, produksi video/film dibuat. Kru lebih akan direkrut pada tahap ini, seperti master properti, script supervisor, asisten Sutradara, fotografer (stills), editor gambar, dan editor suara. Ini hanya peran yang paling umum dalam pembuatan film; PH akan bebas untuk menciptakan perpaduan unik dari peran yang sesuai dengan berbagai tanggung jawab selama produksi film. Hari Shooting seperti  biasa dimulai dengan kru tiba di set/lokasi dengan waktu panggilan mereka. Para artis biasanya memiliki waktu sendiri (panggilan terpisah). Sementara set, rias dan lighting dapat memakan banyak waktu lama, mereka sering diset terlebih dahulu. kru desain produksi biasanya selangkah lebih maju dari kameramen dan Sound Departement: demi efisiensi, sementara scene/adegan sedang difilmkan, mereka sudah mempersiapkan yang berikutnya.

Para aktor berlatih/menghafal script dan blocking dengan sutradara, kru kamera dan soundman berlatih dengan mereka dan membuat tweak akhir. Akhirnya, aksi mereka di syut sebanyak mungkin sesuai keinginan sutradara. Pengambilan scene berakhir ketika sutradara berkata ‘Cut! “, kameramen dan Soundman berhenti merekam.

Jika Sutradara memutuskan mengambil tambahan yang diperlukan, mengulangi seluruh proses. Pengawas script akan mencatat setiap terjadi masalah kontinuitas dan suara dan log tim kamera mencatat secara teknis untuk laporan. Setelah terpuaskan, kru bergerak ke sudut kamera berikutnya sampai seluruh adegan ‘tertutupi’. Saat shooting selesai, asisten sutradara berkata ‘Bungkus/Wrap’ atau ‘Move On/Pindah’ dan kru akan membongkar set untuk adegan itu.

Pada akhir hari, Sutradara menyetujui jadwal syuting hari berikutnya dan laporan kemajuan setiap hari dikirim ke PH (termasuk laporan dari kontinuitas, suara, dan tim kamera). Call Sheet didistribusikan ke para pemain dan kru untuk memberitahukan mereka kapan dan di mana untuk datang untuk Syuting berikutnya. Kemudian, Sutradara, Produser, dan kepala departemen lainnya, dan kadang-kadang para pemain dapat berkumpul untuk menyaksikan hasil rekaman kemarin, yang disebut dailies, dan me-review pekerjaan mereka. Bila seluruh film ini sudah didapat, sudah menjadi kebiasaan untuk PH untuk mengatur Wrap Party dan berterima kasih kepada semua pemain dan kru berkat usaha mereka.

Tahap Pasca Produksi

Di tahap ini,  video/film dirakit/diedit oleh editor video/film. Penggunaan video modern dalam proses pembuatan film telah menghasilkan dua varian alur kerja: satu menggunakan sepenuhnya film, dan yang lainnya menggunakan campuran film dan video.

Tahap Distribusi

Ini adalah tahap akhir, di mana film ini dirilis ke bioskop atau untuk konsumen media (DVD, VCD, VHS, Blu-ray) atau download langsung dari penyedia. Film ini di-copy seperti yang diperlukan untuk distribusi ke bioskop. Press Kita, Poster, dan diterbitkan media iklan lainnya dan film diiklankan dan dipromosikan.
Distributor film biasanya merilis sebuah film dengan launching party, pers release, wawancara dengan pers, pemutaran press preview, dan pemutaran film festival. Kebanyakan film memiliki situs web. Film ini tayang di bioskop yang dipilih dan DVD biasanya dirilis beberapa bulan kemudian. Hak distribusi untuk film dan DVD juga biasanya dijual untuk distribusi di seluruh dunia dan Distributor berbagi keuntungan dengan PH.

PROSES PEMBUATAN FILM PENDEK

A. Dasar pembuatan film
Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah:

Temukan Ide Cerita

Kalau tak ada ide cerita, walaupun Anda punya kamera yang mahal dan bagus, film tak tercipta juga.  Untuk itulah, dalam proses produksi film, langkah pertama adalah temukan ide cerita Anda. Usahakan cerita dengan ide yang baru dan unik. Belum pernah ada sebelumnya.

Riset

Ini tak kalah penting. Riset inilah yang akan membawa film ada mempunyai reputasi yang tinggi. Apalagi kalau Anda sedang ingin membuat film bergenre sejarah.  Riset ini bisa dilakukan dengan misalnya membaca referensi, buku-buku literatur yang mendukung film tersebut, atau bisa juga misalnya dengan melakukan wawancara kepada tokoh-tokoh atau ahli yang terkait dengan tema film yang sedang digarap.

Casting

Ini terkait dengan rekruitment tokoh. Proses seleksi dan pencarian tokoh berbakat yang akan memerankan film tersebut. Baik itu tokoh utama, maupun tokoh tambahan. Dalam beberapa adegan, mungkin akan terjadi adegan ekstrem seperti perkelahian atau adegan ekstrem lainya. Untuk itu diperlukan tokoh pengganti. Dalam proses inilah semua itu berlangsung.

Shooting

Proses ini adalah tahap pengambilan gambar. Dalam proses ini sang sutradara menjadi ujung tombak dalam mengarahkan kameramen melakukan kerja-kerjanya.  Memang, kameramen pasti punya cukup keahlian untuk mengambil gambar. Tapi, sang sutradaralah yang menentukan bagaimana sudut pandang pengambilan gambar, mana yang harus ditonjolkan dsb. Begitu juga, saat shooting ini, sang sutradara juga mengarahkan tokoh-tokoh atau pemeran film tersebut agar sesuai dengan skenario yang telah disusun sebelumnya.

Editing

Inilah tahap akhir proses produksi film. Saat pengambilan gambar mungkin terjadi kesalahan-kesalahan. Dalam tahap inilah Anda atau tim Anda bisa melakukan editing atas sebuah film. Editing ini sebenarnya adalah proses penggabungan adegan-adegan film yang telah diambil gambarnya sebelumnya. Menambah efek-efek dalam adegan yang terekam, atau mengurangi atau meng-cut adegan-adegan yang tidak atau kurang perlu. Nah, setelah selesai proses pengeditan saatnya film itu diedarkan ke publik.

Pada umumnya cara pembuatan film sama saja, tidak terlalu memusingkan. Mungkin yang akan menjadi tantangan adalah bagaimana mewujudkan step by step pembuatan film tersebut. Berikut adalah langkah-langkah dasar yang bisa Anda tapaki :

1. Buatlah Ide
Carilah ide yang menarik, yang sensasional dan tidak pasaran. Biasanya orang suka menonton film karena merasa ada bagian dari film itu yang dekat dengan dirinya. Carilah tema yang unik tetapi dekat dan familiar di hati masyarakat
2. Buatlah sasaran ide kita
Setelah mendapatkan ide, kita tentukan film kita mau ditujukan untuk siapa? Mahasiswa? Pelajar? Anak-anak?keluarga? Bila kita sudah menemukan segmen yang tepat, akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan alur cerita.
3. Sinopsis film
Tak akan ada sebuah film yang bagus tanpa sinopsis Bahkan, film dokumenter pun memerlukan sinopsis untuk narasi dan menggambarkan cerita apa yang akan diusung. Buatlah sinopsis yang ringkas, padat, jelas, langsung pada sasaran, konflik yang jelas dan ending yang mengejutkan.
4. Naskah Skenario
Bila film telah selesai, buatlah skenario Anda bisa meminta orang lain untuk menulis, lalu Anda mengurusi hal lain atau Anda tulis sendiri skenario Anda. Setelah skenario jadi, mulailah membuat film.
5. Mulai membuat Film
Tentukan story board film kita, tentukan lokasi cari view yang bagus untuk lokasi agar sesuai dengan tempat yang diinginkan dalam skenario. Tempat yang sesuai mendukung cerita.
6, Siapkan alat-alat teknis
Siapkan kru. Siapkan lampu,camera, setting, property, kostum, piñata make up, dan lain-lain sebagainya.
7. Tentukan budget
Setelah menentukan apa dan siapa yang kita inginkan, kita bisa memulai membuat budget atau anggaran film. Tetapi lebih baik budget sudah disiapkan sejak awal.
8. Syuting dan Editing
Setelah mendapatkan izin dan lain sebagainya, Anda bisa mulai syuting. Begitu selesai syuting adegan film diedit berdasarkan urutan scene di dalam skenario.
9. Review dan Revisi
Review, lihat ulang hasil film yang sudah Anda buat. Lalu revisi bila ada bagian scene yang jelek, bisa Anda buang. Bila ada scene yang kurang, bisa Anda tambahkan yang baru
10. Buat promosi
Siapkan media untuk promosi seperti spanduk.iklan trailer, pamflet, poster dan lain-lain.
11. Masukkan dalam DVD
Setelah film Anda finish, Anda bisa masukkan dalam keeping DVD. Dan gandakan keping DVD itu untuk keperluan pribadi, distribusi atau promosi.
Itulah tadi langkah-langkah dasar dalam membuat film. Tentu saja pelaksanaannya tidak semudah teori, namun tidak ada salahnya mencoba dan terjun langsung. Dengan mengerjakan sesuatu yang menurut kita susah, lambat laun akan menjadi mudah.

10 LANGKAH MEMBUAT FILM PENDEK

1. Riset Awal! 

Kita cari tahu dulu tentang latar belakang yang ingin kita buat film. Kalau serius, riset ini harusnya sangat detail, tetapi kalau mau sederhana, kita bisa saja browsing dulu di internet atau bertanya kepada teman atau orang yang sudah mengalaminya. Kita catat data-data yang kita dapat tadi.

2. Siapkan Peralatan 

Perlengkapan yang diperlukan adalah handycam atau kamera video apa pun beserta baterai dan charger. Jangan lupa bawa juga mikrofon tambahan dan kabel ekstensinya, tripod, dan yang paling penting, kaset-kaset kosong (bawa cadangan ya).

3. Riset Lapangan 

Waktu sampai di tempat tujuan, kita harus melakukan riset lebih dalam dari riset awal yang sudah kita lakukan di rumah. Cocokkan data yang didapat saat riset awal dengan keadaan di lapangan.
Bagaimana caranya? Ya jalan, ngobrol, dan nongkrong! Santai dan berusaha akrab dengan lingkungan yang akan kita filmkan.

4. Buat Alur Cerita Kasar 

Tentukan siapa saja yang mau diangkat sebagai tokoh dalam film. Biasanya, dari hasil riset di lapangan, kita bisa mendapatkan sebuah ide yang lebih spesifik dan menarik untuk diangkat dari ide awal kita di rumah. Misalnya, “Keseharian hidup badut di Dufan”. Kemudian, buatlah alur cerita kasar dari ide tersebut. Misalnya, tugas-tugas si badut di Dufan dan tempat-tempat wajib yang harus didatangi si badut.

5. Buatlah Sinopsis 

Cerita singkat tentang seperti apa film yang kita buat ini. Dari sinopsis kita bisa menentukan siapa saja yang harus kita wawancara, daftar pertanyaan untuk setiap wawancara, dan daftar gambar-gambar (footage) yang dibutuhkan di luar wawancara.

6. Syuting atau Pengambilan Gambar 

Dari hasil riset, kita sudah tahu di mana saja dan kapan saja orang-orang yang ingin kita wawancara berada. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk pengambilan gambar. Yang pertama, datangi dan minta izin mereka untuk melakukan wawancara. Ingat, jangan sekali-kali merekam wawancara tanpa izin! Tidak etis dan bisa bikin mereka tidak suka.
Kedua, jangan lupa menggunakan mikrofon tambahan ketika melakukan wawancara, apalagi kalau kita berada di tengah keramaian. Ketiga, gunakan daftar pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya sebagai acuan, tetapi jangan terlalu kaku, kita boleh bertanya hal-hal lain di luar daftar tersebut.

Keempat, buat suasana wawancara sesantai mungkin, bertanyalah seperti kita sedang mengobrol biasa. Sebab, keberadaan kamera video bisa membuat orang gugup, jaim, dan tidak bisa menjawab jujur.

Kelima, gunakan tripod bila wawancara berlangsung cukup lama dan tidak dilakukan sambil bergerak. Keenam, Selesaikan semua wawancara dari daftar orang yang sudah kita buat. Setelah itu rekam semua gambar yang sudah kita tulis dalam daftar footage kita. Kalau kita masih punya waktu dan kaset cadangan, kita boleh kok merekam gambar-gambar tambahan lain yang mungkin nanti bisa berguna saat tahap editing.

Ketujuh, setelah semua selesai direkam. Periksa lagi semua daftar yang kita punya. Baca lagi sinopsis awal kita. Apa semua sudah cukup. Jangan sampai ada yang terlupa.

7. Buat Alur Cerita Final 

Sesuaikan hasil catatan dengan hasil wawancara yang sudah kita buat. Masih sesuaikah? Harus diubahkah? Ke arah mana harus dikembangkan?
Hal ini sangat mungkin terjadi karena hasil wawancara bisa banget menghasilkan data-data yang lebih banyak dan mungkin berbeda dari apa yang sudah kita siapkan sebelumnya. Enggak masalah kok. Perbaiki dan buat sinopsis baru yang bisa disusun dari hasil rekaman yang sudah kita tonton berulang kali.
Setelah selesai, barulah sinopsis final ini bisa jadi panduan untuk mulai mengedit.

8. Mengedit Film 

Mulai capture hasil rekaman yang sudah kita pilih sebelumnya ke dalam komputer menggunakan program editing yang biasa kita pakai. Setelah itu susun film kita berdasarkan sinopsis final yang sudah kita buat sebelumnya.
Masukkan footage-footage yang kita sudah rekam. Buat alur semenarik mungkin, jangan terlalu banyak wawancara yang bisa membosankan. Idealnya, panjang film 8-12 menit.

9. Musik Latar atau “Soundtrack” 

Tambahkan musik latar yang sesuai, jangan pakai musik orang sembarangan ya! Sebisa mungkin buat musik sendiri atau minta teman yang pandai membuat musik untuk membuatkan musik untuk film ini.

10. Terakhir, koreksi warna atau “color correction” 

Masukkan opening title (pilih judul yang catchy dan bisa menggambarkan keseluruhan film), tambahkan credit title, mixing suara, wrap! Jadikan DVD biar bisa ditonton beramai-ramai.

Cara Membuat Video Profil Sekolah

1. Riset dan Pengumpulan data 
 
Sebelum anda membuat video Profil Sekolah terlebih dahulu anda harus mengadakan penelitian tentang sekolah yang akan dibuat profil. Riset bisa dengan cara :

·     Wawancara dengan Kepala Sekolah
·     Wawancara dengan bagian kesiswaan, kurikulum, pengembangan
·     Wawancara dengan staf karyawan atau bagian tata usaha
·     Wawancara dengan beberapa orang tua wali atau komite sekolah
·     Membaca buku, visi misi sekolah & brosur profil sekolah
·     Membuka website sekolah
·     Foto-foto dll. 

Yang perlu diperhatikan anda harus mendapatkan data berupa angka, teks dan gambar. Tentu saja data tersebut bukan yang bersifat rahasia, namun yang bersifat umum. Dengan demikian anda akan mengetahui kondisi sebenarnya dari sekolah tersebut, sehingga anda bisa merasakan dan menjiwai kegiatan di sekolah tersebut. Untuk melakukan riset memerlukan waktu kurang lebih 1 minggu tergantung dari kondisi sekolah masing – masing. 

2. Konsep Skenario Video Profil Sekolah
 
Setelah semua data terkumpul maka anda sudah mempunyai bayangan umum terhadap sekolah tersebut, kini anda seharusnya cukup percaya diri punya banyak bekal pertanyaan untuk sekolah. Tahap ini lebih banyak bertukar pikiran antara sekolah dan anda sebagai pembuat video profil. Pembuat video profil harus mengerti teknis dan detail pengerjaan video profil agar keinginan sekolah bisa terpenuhi. Yang lebih penting keinginan sekolah bisa ditampung pihak pembuat video profil. Namun tidak selalu keinginan klien kita terima 100%, akan lebih baik jika pihak pembuat video profil bisa memberikan masukan berupa ide cerita, skenario, audio visual yang kreatif dll.

Setelah berdiskusi panjang lebar, pihak pembuat video profil bisa segera membuat skenario (berupa alur cerita serta isi video profil), sekaligus menghitung harga pembuatan proyek video profil ini. 

a.  Sajian

Sajian berupa video pendek (short video) yang padat akan materi dari sekian banyak kegiatan sekolah yang dikemas hanya dalam 20 – 30 menit. Oleh karena itu perlu ide cerita yang kreatif, konsep visual yang menarik, teks yang informatif, komunikatif, sehingga menjadi Skenario yang berkesan bagi yang menyaksikannya Audio visual tersebut. Narasi, dubing, effect, harus di perhatikan dengan seksama  agar  visualnya jelas dan audionya juga tidak tumpang tindih sehingga pemirsa bisa melihat, mendengarkan isi video tersebut dengan mudah untuk dipahami, tidak bosan dan menyenangkan. Dari hasil edit dan pengambilan gambar di lapangan yang variatif bisa terlihat seberapa rumit proyek video anda. 

b. Format Video

Untuk  dapat dikonsumsi oleh banyak kalangan sebaiknya format video yang anda buat dibuat dengan format video CD tetapi untuk mendapatkan kualitas gambar yang lebih baik sebaiknya di buat dengan format Digital Versatile Disc (DVD) atau dibuat format VCD dan DVD sekalian. Karena kedua format tersebut selain selain dapat diputar di Computer juga bisa dijalankan di CD/DVD Player rumahan tanpa harus selalu menggunakan komputer 

Tips saat pengambilan gambar ( VIDEO )
 
·     Siapkan kamera Camcoder DV jangan camera foto digital karena baik kualitas gambar, resolusi, intensitas pencahayaan sangat berbeda. Bila anda tidak mempunyai peralatanVideo Shooting bisa menyewa keVideo Shooting untuk pernikahan.
  • Siapkan cadangan baterai dan kaset / DV yang baru.
  • Mulailah mengambil adegan minimal 3x dari berbagai sudut agar anda bisa memilih stockshot yang terbaik.
  • Ambil adegan dari 3 sudut pandang: Close Up, Medium Shot dan Long Shot
  • Namun lebih baik anda juga mengambil juga data / properti di luar skenario, siapa tahu ada perubahan skenario atau desain yang memerlukan data / properti tersebut. Mumpung di tahap ini anda mendapatkan izin untuk melihat-lihat kondisi dan seluk beluk di instansi tersebut.
  • Rekam setiap divisi / bagian / departemen dari segi ruangan, laboratorium, komputer, proses belajar mengajarnya baik indoor maupun outdoor termasuk kegiatan diluar sekolah lengkap dengan ekstrakurikulernya.
  • Ambil adegan di ruangan guru dan karyawannya dalam melakukan aktivitas kegiatan.
  • Gunakan Teknik pergerakan kamera seperti Pan, Ped, Tilt, Dolly, Zoom, Truck, Arc dll agar video lebih dinamis.
  • Untuk shooting luar ruang cahaya terbaik adalah pukul 8-9 pagi dan 3-4 sore. Jika shooting pukul 11-13 siang, bayangan akan terlalu kuat dan menutupi objek yang dishoot.
  • Anda sebagai sutradara berkewajiban mengatur aktor, kameramen dan pengkondisian suasana ruangan.
  • Persiapkan shoot untuk menempatkan objek sepertiga dari area shoot, nantinya untuk penempatan teks saat editing di komputer.
  • Umumkan jadwal Shooting ke seluruh pimpinan dan staf sekolah, agar mereka siap dan tidak kaget menghadapi camera dan tim anda.
  • Siapkan untuk wawancara dengan kepala sekolah, usahakan dan kondisikan beliau tampil dan berbicara secara tegas, bersemangat tentang sekolahnya. Selain ucapan gunakan juga bahasa tubuh seperti gerakan tangan, langkah kaki, gerakan kepala dan senyuman.
  • Jika ada guru atau karyawan wanita yang berpenampilan menarik, bisa anda ‘manfaatkan’ sebagai aktor untuk adegan seperti bersalaman, menelepon, mengetik, mengajar, presentasi dll.
  • Jika di sekolahan tersebut tidak ada yang cantik, anda bisa mengajak rekan anda, menyewa dari agen model, sekolah sekretaris dll. Untuk urusan ini anda tentu lebih tahu.
  • Tips dan trik lain tentang shooting silakan tanya orang yang ahli tentang penyutradaraan atauJasa Video Shooting Profesional
Selamat mencoba semoga bermanfaat

Tutorial membuat video clip dengan kamera HP

Berikut adalah Video klip karya pertama yang saya buat dengan proses yang sangat sederhana. Saya menguploadnya ke situs video terkenal yaitu youtube. Walaupun dengan dengan tampilan apa adanya, yang penting bisa dikatakan termasuk video klip untuk kalangan selebritis…xixixi..
Namun saya yakin dengan sobat, jika sobat mengetahui cara ini. Maka dengan penuh keyakinan sobat pasti bisa mendesainnya lebih keren. Bahkan bisa disamakan dengan video-video  klip yang ada dibelantara musik Indonesia. Apalagi jika anda ingin membuat video klip lagu karangan anda sendiri.  Wau.. pasti keren banget…
Semoga saja, cara ini bermanfaat bagi anda yang ingin mengembangkan seni.
Ok sobat .. saya berikan cara membuatnya :
Bahan-bahan :
1.  HP Nokia N70 (atau hp yang lainnya yang penting kwalitas gambarnya jelas dan tidak pecah)/ handicam
Alat yang digunakan Sebagai shoting video
2.  Laptop atau komputer
Alat pengolah data video
3.  Software Any Video Converter
Instal software ini dikomputer anda. anda bisa mendownload softwarenya disini
Software ini berguna untuk merubah hasil video anda yang berbentuk 3gp atau mp4 menjadi MPEG-I (VCD)
Dan dapat juga digunakan untuk mengedit dan memotong bagian video yang mana kita suka
Untuk cara menggunakannya, sobat bisa baca disini
4.  Software  Windows Movie Maker
Software Windows Movie Maker adalah software utama dalam pembuatan video klip anda. setelah video klip anda sudah dirubah menjadi tipe MPEG-I (VCD), maka dapat disusun nantinya untuk dijadikan sebuah video klip. Anda bisa download windows Movie maker disini.
5. Software Media Player Classic
Software ini berguna untuk melihat hasil video yang anda rekam dari hp atau handicam anda. agar bisa tau bagian mana yang akan diambil atau diedit untuk dijadikan video klip. Selain itu juga kita dapat menghentikannya langsung dengan mengklik gambar video. Jika ingin mengedit video, Jangan lupa lihat waktunya. Setelah kita tau waktunya, maka gunakan Any Video Converter untuk mengeditnya.
6.  Software FreeVideoTo MP3Converter
Instal software ini dikomputer anda. untuk downloadnya ada disini.
Software ini berguna untuk merubah video menjadi mp3. Memang ada software yang merubah amr (rekam suara dari hp) menjadi mp3. Cuma, ketika dirubah menjadi mp3, lagu anda akan banyak yang terpotong, sehingga hasilnya tidak maksimal. Jika anda ingin membuat lagu karangan anda menjadi mp3, anda bisa membaca tricknya di Merubah lagu rekaman hp menjadi MP3.
 7.  Camtasia Studio 6
Jika sobat menginginkan video klip sobat memiliki teks. Sofware ini bisa membantu.
Anda bisa download camtasia Studio 6 disini. Dan cara agar video klip anda memiliki teks, anda bisa lihat caranya disini
8.  Youtube and facebook
Dua situs berikut ini adalah sarana promosi karya sobat yang sudah jadi. untuk cara memasukkan karya anda ke youtube, anda bisa baca disini
Caranya :
1.       Buka windows movie maker
2.      Masukkan lagu MP3 anda ke kolom audio pada windows movie maker
3.      Cara nya : klik import audio or music > cari data mp3nya > import
4.      Cari hasil video MPEG-I(VCD), yang sudah anda rubah difolder anda. untuk cara merubah video rekaman hp anda ke VCD anda bisa baca disini
5.      Cara mencari video sebagai berikut : klik import video > cari video anda > import > klik hasil video yang diimport, tanpa lepas kliknya, arahkan ke kolom video
6.      Klik kanan bagian audio tepat dibawah video, atau diatas audio/music. Klik mute.Gunanya adalah Untuk menghilangkan suara asli video rekaman dari hp anda
7.      Begitu seterusnya sampai video dan lagunya sama ukurannya.
8.     Edit, sesuaikan gambar dan suara
9.      Jika sudah selesai, klik save to my computer > buat nama video klipnya > klik next >  finish
10.  Selesai.
Tambahan :
Hasil dari windows movie maker bisa mencapai ratusan MB. Jika sobat menginginkan video klip sobat bisa diputar di hp. Anda bisa lihat caranya disini.
Anda juga bisa menyimpan hasilnya langsung ke CD. Sehingga anda bisa menontonnya lewat layar VCD dirumah anda. ibaratnya anda sudah bisa membuat album video klip, yang akan dijual ditoko CD. Xixixi…..

CARA SHOOTING

I. MENGENALI MEDAN : OUT DOOR / INDOOR

Melakukan shooting berarti mewakili orang lain untuk memilihkan adegan-adegan apa yang akan disaksikan. Dengan kata lain kita “mewakili” mata orang lain. Hal ini juga berarti mewakili selera pemirsa. Oleh karena itu pengambilan gambar yang baik adalah pengambilan gambar yang dapat memuaskan pemirsa.

Sebagai contoh :alangkah kecewanya pemirsa jika melihat hasil liputan anda tentang tertangkapnya seorang pembunuh, jika yang dapat mereka saksikan hanya  gambar punggung pembunuh  di antara kerumunan orang-orang yang menangkapnya, karena anda mengambil gambar dari belakang si pembunuh, mengikuti orang-orang yang menggiringnya dari belakang.

Atau sebaliknya : anda mengambil si pembunuh dari bagian depannya, namun menghadap matahari (back light), sehingga sipembunuh cuma terlihat sebagai bayangan hitam yang berjalan kearah anda.

Oleh karena itu pengambilan gambar atau shooting harus dilakukan dengan “persiapan”  pengetahuan  tentangmedan.

Pengambilan gambar dapat  secara mudah dikenali sebagai INDOOR (dalam sebuah ruangan,studio, maupun auditorium yang luas) dan OUTDOOR ( di alam bebas,lapangan maupun di jalanan. Secara teknis perbedaan lapangan tersebut menyebabkan adanya  perbedaan perlakuan di sana-sini.

Umumnya pada pengambilan gambar INDOOR, para kameramen biasanya selalu menggunakan tripod. Sebaliknya pengambilan gambar di lapangan seperti NEWS jarang menggunakan tripod, melainkan hand held alias dipanggul saja dibahu. Bahkan dengan  handycam cukup digenggam saja. Namun untuk pengambilan gambar pada pembuatan film, penggunaan tripod justru sangat wajib. Bahkan crane, jimmy jib, dolly tripod sangat diperlukan.

Pada pengambilan gambar INDOOR penggunaan lighting atau pencahayaan sangat diperlukan, karena pada umumnya cahaya dari lampu ruangan kurang memadai. Sebaliknya pada pengambilan gambar untuk liputan NEWS di lapangan, kameramen jarang memerlukan lampu tambahan, kecuali pada situasi malam atau dalam  tempat gelap. Sedangkan pada pembuatan film, penggunaan lampu sangat diperlukan, baik untuk membuat effect maupun  untuk menghasilkan gambar yang baik.

II. PERGERAKAN KAMERA : HARUS BERALASAN.

Dalam sebuah tugas pengambilan gambar yang paling sederhana, hanya ada seorang saja yang bekerja, yaitu kameramen. Dia memutuskan hal-hal apa saja yang  perlu diambil gambarnya dengan kamera, sesuai dengan tema liputannya.  Namun dalam dunia pertelevisian, khususnya  di bagian NEWS (pemberitaan), setidak-tidaknya  harus ada dua orang professional yang pergi ke lapangan untuk meliput berita, yaitu seorang reporter dan seorang kameramen.

Reporter bertugas mengumpulkan berita dan data-data yang diperlukan, sedangkan kameramen bertugas mengambil gambar-gambar yang sesuai dengan kebutuhan liputan. Kemudian reporter dan kameramen bekerjasama melakukan wawancara  pada tokoh-tokoh yang menjadi pusat berita, ataunarasumber yang dianggap penting untuk kelengkapan sebuah berita.

Reporter mempunyai hak untuk meminta kameramen mengambil gambar-gambar khusus dari obyek tertentu, sampai kepada detail shot dan angle yang dikehendaki.
Pada saat kameramen mengambil gambar pada sebuah liputan peristiwa, pada saat itulah dia harus  terus menyesuaikan pergerakan kamera dengan situasi.

Dalam hal ini, pergerakan kamera yang tidak beralasan justru akan membuat hasil pengambilan gambar jadi  buruk dan kehilangan makna
Pada bab sebelumya  telah dijelaskan jenis-jenis pergerakan kamera, namun kegunaannya ataupun kapan harus menggunakan gerakan-gerakan tersebut, belum tuntas kita bahas.
Dibawah ini beberapa tips pergerakan kamera dalam pengambilan gambar :

a. Jangan menggerakkan secara PAN kamera pada suatu adegan atau benda yang statis, hanya dengan tujuan untuk memperlihatkan sebuah titik yang menarik kepada titik yang lain. PAN hanya digunakan pada orang yang bergerak atau obyek bergerak.

Mengapa demikian ? Sebab jika kamera digerakkan secara PAN maka akan menarik perhatian  dan mengacaukan pikiran dari pemirsa pada pokok materi.

Gerakan PAN seperti itu tidak mempunyai motif, jadi malah membuyarkan perhatian pada obyek . Lagi pula secara natural,dalam kenyataan mata manusia tidak melakukan gerakan PAN ketika  melihat obyek yang diam.

Gerakan  PAN juga digunakan untuk memperlihatkan suatu  panorama yang luas seperti pegunungan dan lembah,suatu obyek yang  panjang atau lebar .Karena keterbatasan frame kamera, maka dalam satu pengambilan hanya dapat dihasilkan sepotong dari obyek atau panorama yang sempit saja. Oleh karena itu dilakukan gerakan pengambilan gambar PAN agar seluruh obyek / panorama  terlihat

Gerakan PAN yang sangat lambat pada sebuah lansekap (pemandangan luas) bisa ditolerir,karena mata juga bisa melakukannya tanpa membuat obyek jadi tak jelas(blur).
Jadi jika mengambil gambar obyek diam pada sebuah ruangan atau di sebuah panggung, jangan menggunakan gerakan PAN, kecuali ingin mengambil back drop  atau spanduk-spanduk / caption-caption yang berisikan tulisan bersambungan
Apalagi fast pan, atau gerakan pan secara cepat, sangat kurang baik, karena akan mengakibatkan efek  coretan

Seperti juga untuk semua jenis gerakan kamera, ketika memulai mengambil sebuah shot, janganlah tiba-tiba melakukan gerakan PAN atau  TRACK, CRAB, dan zoom. Setelah kamera dalam posisi record, biarkan selama beberapa detik ( 4 sampai 5 detik) sebelum melakukan gerakan. Demikian juga ketika  ingin menghentikan record, tunggulah beberapa detik setelah berhenti bergerak. Waktu still beberapa detik ini berguna dalam editing , sehingga pemirsa mempunyai kesempatan untuk  ‘mengerti’ sejenak apa yang akan disaksikan, sebelum kamera bergerak.

b. Jangan melakukan gerakan PAN ke kanan lalu PAN ke kiri berulang-ulang pada sebuah obyek. Cukup sekali saja gerakan PAN ke suatu arah dilakukan.

Contohnya : ketika anda mengambil gambar serombongan orang bergerak menuju pintu ke luar di sebelah kiri, maka kamera anda mengikutinya dengan melakukan gerakan PAN ke kiri.Tetapi setelah kamera anda sampai ke muka pintu, kemudian anda langsung melakukan gerakan PAN ke kanan, ke arah sisa rombongan yang berada di bagian belakang, lalu ketika sudah sampai pada rombongan yang paling belakang, kamera anda gerakkan lagi PAN ke kiri. Hal ini hanya membuat pemirsa merasa anda kebingungan dalam memilih. Hasilnya seperti orang mengecat tembok: dikuas ke kanan, lalu kekiri, lalu ke kanan lagi.
Sangat tidak enak dinikmati.

Begitu juga untuk gerakan TILT UP dan TILT DOWN. Hindari melakukan pergerakan kamera TILT UP lalu TILT DOWN berulang-ulang. Membuat pemirsa pusing dan bosan.
Anda boleh saja merekam secara seperti di atas untuk keperluan kelengkapan pendokumentasian, namun nantinya  dalam hasil ahir, harus diedit, dipotong, dipisahkan, agar gerak PAN kanan PAN kiri yang berulang-ulang tidak tersajikan dalam hasil akhir.

c. Jangan melakukan track back (gerakan kamera bersama tripod mundur kebelakang) kecuali dengan obyek manusia yang bergerak menuju kamera.

Pada intinya, ini merupakan perluasan dari aturan nomor a) di atas, yaitu jangan membuat pergerakan kamera tanpa alasan yang jelas bagi pemirsa.
Gerakan track back pada orang yang bergerak menuju arah kamera adalah untuk tetap menjaga jarak . Juga ketika mengambil sekelompok orang yang bergerak , gerakan track back mempunyai alasan,yaitu menjaga agar tidak ada anggota dari kelompok yang hilang dari  frame..

Juga ketika sedang mengambil gambar seseorang yang duduk dengan shot medium close up ,tiba-tiba orang tersebut bangkit berdiri, maka kamera bisa melakukan gerakan track back, atau zoom out ,agar  orang tersebut masih tetap masuk dalam frame camera. Gerakan track back berkesan meninggalkan lokasi.

Contoh lain adalah ketika kita mengambil gambar awal seorang guru yang sedang duduk di depan kelas memberi penjelasan pada murid-murid. Pada shot awal kita mungkin menggunakan medium shot, tapi ketika kemudian guru tersebut berdiri dan menulis di papan tulis di belakangnya, kamera sudah selayaknya track back, agar tetap dapat “mewadahi”  guru yang telah berdiri tersebut. Pada gerakan track back ini, jangan terjadi terlalu awal atau terlambat, namun harus pas dengan gerakan si obyek. Hal ini juga yang kita lakukan dengan mata kita,yaitu selalu mengikuti dan menyesuaikan bidang penglihatan agar obyek tetap terus terlihat dengan  baik.

d. Bedakanlah ukuran-ukuran shot (size) jika mengambil suatu obyek  bergerak  berulang-ulang. Minimal dua ukuran shot yang berbeda.

Contohnya : jika anda mengambil  gambar peristiwa  demonstrasi di sebuah tempat misalnya, ambilah  gambar adegan-adegan disanadengan beberapa type ukuran shot. Misalnya anda mengambil sekelompok demonstran yang sedang mengelilingi seorang demonstran yang sedang berorasi dengan full shot(FS), maka usahakan pada shot berikutnya anda mengambil sang  orator itu sendiri dalam close up (CU) atau medium close up (MCU)

Setelah itu jika anda menyambung lagi dengan mengambil sekelompok demonstran dari posisi pertama, dengan shot yang pertama lagi, tidak akan terjadi suatu “lompatan” (jumping) akibat ukuran gambar sama, tetapi posisi pasti tidak bisa persis sama .

“Lompatan” atau jumping terjadi jika dua buah adegan yang sama  diambil dengan size shot  yang sama,  disambung dalam editing. Apalagi untuk shot berukuran besar seperti close up (CU) .Akan terasa gambar itu seperti meloncat sekejap, akibat posisi obyek yang sama , hanya sedikit berbeda jaraknya.

Demikian juga angle pengambilan, usahakanlah tidak hanya statis dari satu sudut saja. Dengan mengambil gambar-gambar  bervariasi ukuran shot-nya, anda  telah menyediakan stock shot untuk keperluan transisi pada saat pengeditan nanti.

III.FILOSOFI TELEVISI ADALAH CLOSE UP

Dalam pemilihan ukuran shot, jangan segan-segan memilih ukuran besar untuk wajah seseorang. Ukuran close up (CU) atau big close up (BCU) sangat sering digunakan . Pengambilan wajah seseorang dengan ukuran besar tersebut akan menimbulkan karakter  dan emosi obyek lebih muncul.

Cobalah mengambil profil wajah seorang obyek yang sedang marah dengan CU, bedakan dengan pengambilan berukuran MCU (Medium Close up)yang diambil dari depan obyek.
Pada dasarnya tayangan di televisi lebih menyukai  pengambilan gambar dengan size close up, karena pengaruh ekspresi tokoh dalam televisi menjadi lebih kuat.

Kita hanya harus menghindari kesalahan  pengambilan gambar dari sudut yang  mengakibatkan  secara psikologis  justru berlawanan.
Contohnya : untuk menampilkan seorang obyek yang berkedudukan tinggi atau gagah dan berwibawa, ambilah obyek tersebut dengan low angle, maka obyek tersebut akan berkesan lebih berwibawa. Namun juga harus diamati lebih dulu, apakah si orang yang menjadi obyek itu mempunyai lubang hidung yang besar mendongak atau tidak, memiliki gigi menjorok (tonggos) atau tidak, Sebab jika demikian, maka  sudut low angle yang kita ambil untuk  merekamnya justru akan mempermalukan sang obyek, karena sisi kekurangannya justru akan terekspose.
Demikian juga untuk orang yang botak, sebaiknya kita tidak mengambilnya dengan high angle.
Tujuan pemilihan angle adalah memperoleh kesan maksimal yang sebaik-baiknya dapat dilakukan dengan kamera.

Sebaliknya jika kita mengambil obyek yang  patut dikasihani atau  seorang “pecundang”, maka pengambilan obyek tersebut dengan high angle akan lebih menampakkan kesan tersebut. Sekali lagi, hal tersebut hanyalah kesan secara psikologis, yaitu  mengumpamakan diri kita sebagai “mata” dari kamera.

Selain itu high angle sangat baik untuk mengambil situasi ditempat kejadian sebuah peristiwa, misalnya sebuah karnaval sedang berlangsung di jalan. Sedangkan untuk meliput suatu daerah yang baru saja dilanda tsunami sebaiknya di liput dari udara (dengan helicopter misalnya), dengan suatu angle yang disebut sebagai bird’s eye, yaitu  pandangan seekor burung yang menyaksikan pemandangan dari udara sambil terbang.

IV.FOCUS & ZOOM

Salah satu hal yang paling menjengkelkan ketika menyaksikan hasil pengambilan gambar adalah TIDAK FOCUS.

Semua camcorder modern sekarang ini dilengkapi dengan fitur AUTO FOCUS.

Apalagi handycam. Dengan auto focus, kamera langsung mengatur titik focus pada obyek yang ada di depan lensa kamera pada saat itu. Otomatis ketika kamera bergerak ke lain obyek atau berpindah posisi, focus nya otomatis berubah lagi, disesuaikan dengan obyek baru yang berada di depan lensa, artinya obyek-obyek lain yang tidak berada pada titik focus kamera akan tidak jelas. Akibatnya banyak  orang yang tidak mengerti kapan menggunakan fitur auto focus akan menghasilkan gambar yang buruk  dan mengecewakan.

Oleh karena itu gunakanlah pengaturan focus  manual sebelum pengambilan obyek-obyek yang  berada pada  tempat terbuka, apalagi dengan banyak latar belakang. Caranya adalah: Pada saat kamera mulai di  ‘ON’ kan(belum RECORD,  masih PAUSE), tekan tombol zoom (in) sampai mentok pada sebuah obyek  yang cukup jauh, katakanlah seekor kerbau. Setelah kerbau tersebut terlihat sangat focus (jelas), silahkan  menekan zoom out menuju obyek lain yang ingin diambil. Jika sudah sesuai size shot  dari obyek yang akan diambil, barulah pencet tombol RECORD. Dengan cara itu focus dari obyek-obyek yang diambil lebih dekat jaraknya dari obyek kerbau akan terekam dengan jelas,focus.

Yang juga tidak kalah menjengkelkan adalah  penggunaan zoom yang sembarangan. Handycam sekarang ada yang mempunyai pembesaran digital sampai 300 X (300 kali) Hal ini menyebabkan  obyek gambar yang diambil dengan zoom terbesar akan sangat bergetar, karena sedikit saja tangan kita yang memegang kamera itu bergerak, obyek yang sangat jauh tapi sedang ‘didekatkan menjadi sangat dekat’ itu akan berguncang hebat. Gerakan sebesar 10  di tangan kameramen akan diperbesar sebanyak 300 kali pada obyek, akibatnya obyek menjadi sangat berguncang.

Untuk mengurangi guncangan seperti itu, jangan melakukan zoom in terlalu besar pada obyek yang terlalu jauh. Kecuali anda menggunakan sebuah tripod.

Jangan melakukan zoom in atau zoom out dengan tersendat-sendat. Sangat tidak enak disaksikan. Ajrut-ajrutan. Juga jangan membuat shot dengan zoom in lalu zoom out berulang-ulang. Memang ada jenis shot yang dikenal dengan sebutan PUMPING SHOT (seperti orang memompa) ,yaitu penggunaan zoom inzoom out secara cepat dilakukan beberapa kali. Namun itu adalah dengan suatu kesengajaan untuk menimbulkan effect kreatif atau ‘becanda’
Untuk sementara rasanya  sudah cukup. Dengan telah mengetahui berbagai tips pengambilan gambar di atas, maka rasanya anda telah mempunyai cukup bekal untuk melakukan pengambilan gambar. Nah tunggu apa lagi ? segeralah mencari peristiwa untuk melatih ketrampilan dan memulai jam terbang anda yang pertama!